Dilema Seorang Ibu Rumah Tangga Full


pengalaman-magang
foto waktu aku magang di MQ publishing :D


Halah judulnya gaya padahal isinya curhat saja seperti biasa, hohohoho... Iya..sekarang aku adalah seorang ftm alias full time mother. I dont make money just make home, hehe..Nah ini dia masalahnya. Entah sejak kapan status ftm dipandang sebelah mata bahkan dengan mata merem? Apakah dari jaman ibu Kartini? entahlah aku tak tahu persisnya. Yang jelas sependek kehidupan aku sejak aku menikah hampir 7 tahun lalu jika bertemu teman, tetangga, keluarga bahkan kenalan suami  rata-rata pertanyaanya hampir serupa. kerja apa? atau kerja dimana? atau sibuk ngapain? ngajar ya? sudah diangkat? maksudnya diangkat PNS, xixixixi..wajar kali ya orang nanya gitu entah serius atau basa basi tidak ada bahan pembicaraan. 

Tapi kalau aku jawab tidak kerja. Langsung dibalas sayang ya..dan kemudian sibuk merekomendasikan beberapa lapangan pekerjaan. Itu lho ngajar disana mehonor dulu kan nanti lama-lama juga naik.. naik odong-odong kali. Coba melamar disitu kan lumayan daripada nganggur gak ada kerjaan, wakzz... dikira ibu rumah tangga kerjaannya tidur-tiduran saja! Sekarang bagi yang melek informasi mehonor tidak semudah itu mau naik-naik. Lagian mereka tidak melihat apa ya kondisiku dengan dua balita begini, hufff... Lha terus aku kan jadinya mikir. Apa salahku gak kerja, kan belum diizinkan sama suami mengingat anak-anak yang masih kecil selain itu juga alhamdulillah suami masih mampu memenuhi semua kebutuhan keluarga.


Ternyata aku gak perlu terlalu dalam mikirnya. Di kampung suamiku lulusan SMA mudah jadi honorer. Dan pertanyaannya kenapa aku yang sarjana ini malah betah saja ngerem dirumah, kenapa ijazahnya tidak digunakan, gitu istilahnya. Terus kenapa dong aku gak kerja? Hehe...Kalau dulu alasannya karena masih new mom. Sulthan masih 6 bulan. Sebelum hamil dan baru tinggal di sini keliling juga sih cari honoran mengajar. Tapi gak keterima. Dan belakangan baru tahu kala honorer itu susah kalau gak punya rekomendasi. Apalagi aku waktu itu baru beberapa bulan di Badak sini. Selain itu aku juga masih setengah gak pede ditengah padang asing ini.

Setelah Sulthan berusia 1,5 tahun aku memutuskan lanjut kuliah lagi. Tadinya kan aku D3 jadi ku lanjutkan lagi mengejar strata 1 di Pendidikan Bahasa Inggris. Lumayan 2 tahun. Diakhir studi aku hamil Syamil. Jadi aku wisuda dalam keadaan hamil 7 bulan. heheheh.. Setelah sarjana, ijazah ditangan ya lanjut ngurus anak lagi karena setelah itu lahiran kan, xixixixi..

Aku bukan penentang wm * working mom * kok. Bukan sama sekali. Aku juga mau berkarir mengembangkan diri supaya bisa lebih banyak menebar manfaat. Tapi aku masih menunggu waktu yang tepat sekaligus mencari apa yang tepat dan gak mau dipaksa-paksa. Aku pengen melakukan hal yang sesuai passion aku. Sesuatu yang yang aku mau dan mampu bekerja keras didalamnya. Ditambah lagi aku gak tega meninggalkan anak. Disamping memang di Badak sini belum ada lembaga penitipan resmi seperti di Samarinda atau Tenggarong. Dan kami disini sebatang kara tanpa keluarga. Lama-lama begini begitu akhirnya aku punya kriteria untuk pekerjaanku kelak:
  • Sesuai passion. Sehingga enjoy menjalaninya walau harus merintis dan bekerja keras
  • Tetap dirumah agar bisa mengawasi anak-anak dan rumah
  • Waktu fleksibel agar tetap bisa quality time dengan keluarga seperti mengajari anak-anak mengaji, membantu buat PR maupun memasak
  • Pekerjaaanya bermanfaat bagi banyak orang, bernilai pahala dan amal jariyah
Nah itu dia pekerjaan impianku.. xixixi... walah gaya ya temans...belum punya pengalaman kerja saja kok pilih-pilih, xixixii... biarin weee...  namanya juga impian. Mumpung anak-anak masih kecil masih ada waktu merealisasikannya.

Tapi alasan-alasan ini kan gak bakal diterima orang. Orang akan bilang begini, itu si A bisa kok anaknya juga masih kecil, Itu si B anaknya 9 juga bisa, wkwkwkwk... terserah deh..aku gak iri kok. Mungkin mereka itu wonder woman sama cat woman, hahahah... Makanya kadang aku merasa malas pulang kampung ya karena pertannyaan itu tadi. Bahkan dulu ortuku pernah suruh aku titipkan Sulthan sama mereka supaya aku bisa kerja, wkwkwkwk... dan ternyata ada juga temanku yang resign demi ngurus anak tapi sama mertuanya disuruh titipkan anaknya sama mereka supaya bisa fokus kerja, wakzzz.... Kalau aku sih, walaupun aku mau kerja *sesuai syarat yang kuinginkan*  tetap berpegang prinsip bahwa tugas utama pencari nafkah ya para suami. Istri sekedar bantu. Makanya aku santai-santai saja, xixixixi.. biarlah suami yang sekuatnya bekerja dan kita fokus denga rumah tangga. Nanti ada kok waktunya selama kita ada niatnya

Tentunya beda kondisi beda jalan cerita ya. Kan ada juga yang mau tidak mau istrinya harus menggulung lengan baju juga demi kelacaran hembusan asap dapur.

Lagian kalo ftm emangnya kenapa sih? Ftm mulia banget kok. Nyuci baju, masak, senyum ama suami itu semua ganjarannya pahala yang besar. Tugas utama wanita adalah keluarganya. Suami dan anak-anaknya. Kalo memang harus kerja harus dengan ridho suaminya dan semuanya dikompromikan dulu supaya hasil kerjanya bermanfaat dan berkah bukannya malah bikin rumah tangga berantakan. Terus terang dulu pertannyaan-pertanyaan dan tanggapan yang menyayangkan ketidakbekerjaanku sempet bikin aku merasa gak berharga

Nah sekarang aku mau benar-benar mengurus anak-anak dan rumah tangga. Nanti ada saatnya mereka tidak membutuhkan perhatian setiap saat lagi. Sekalian sekarang menambah ilmu buat persiapan nanti kalau jadi working mom, hehehe..

Link ini cukup mencerahkan http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga.html