Impian Punya Rumah


anita-maulida-tehninit



Rumah,, oh.. rumah...

Rumah sudah ada dalam wishlist ku sejak mulai menapaki kehidupan pernikahan hampir 7 tahun lalu. Aku ingat jaman awal-awal menikah aku sering mengisi waktu luang dengan membuat denah rumah impian. Seiring berjalannya waktu, hape bisa internetan aku mulai banyak membaca tentang membangun rumah. Aku jadi tahu jaman sekarang istilah rumah berkembang pesat seiring kemajuan dan kebutuhan. Contohnya rumah minimalis dan rumah tumbuh.

Khayalanku tentang punya rumah sendiri harus dihadapkan kenyataan bahwa membuat rumah jaman sekarang sama sekali tidak mudah. Jangankan rumah sudah jadi. Pondasinya saja sudah puluhan juta. Material yang mahal, upah tukang mahal. Dimana-mana seperti itu.

Keinginan ini timbul tenggelam dalam pikiranku. Kadang sangat kuat, kadang juga memudar jika melihat kenyataan kantong, xixixixi.. Apalagi ditambah status kita yang bukan PNS sepertinya semakin meredupkan harapan punya rumah sendiri. Apakah sekarang aku sudah punya rumah sendiri? belum teman-teman, xixixixi... Masih berusaha dan berdoa agar Allah menunjukkan jalannya pada kami yang low budget ini bisa punya rumah. Entah bagaimana caranya tapi aku yakin Allah selalu punya cara ekstra ordinary jika Dia ingin sesuatu terjadi. Sesuatu jalan yang tak pernah terpikir oleh kita.

Tapi alhamdulillah sudah ada kemajuan. Kami sudah punya sebidang tanah. Ceritanya dulu aku selalu galau kira-kira nanti Allah akan kasih tanah lapang kah ataukah tanah yang sudah ada pondasinya buat kami, xixixixi.. geer betul ya teman-teman :D. Gini, pasalnya kontrakan tempat aku tinggal ini dulunya merupakan perumahan security perusahaan minyak. Jadi masing-masing kapling tanah sudah ada fondasinya. Semuanya serupa layaknya komplek pada umumnya. Nah, aku sebenarnya kurang suka dengan denah rumah kontrakanku ini. Jadi aku suka sekali merombak-rombak denah asal menjadi denah baru yang menurutku unik.

Sebenarnya, sekitar 5 tahun lalu kami pernah ditawari kapling yang sudah ada fondasinya. Lokasinya didepan rumah kontrakan kami waktu itu, bersebelahan pula dengan mushola. Luasnya 15x20 harganya 15 juta saja. Saja? hahaha... jangankan 15, satu juta pun tak ada, wkwkwkwk.. Lagipula 5 tahun lalu kami masih dalam kondisi galau apakah akan menetap di Muara Badak apakah akan berusaha mencari tempat baru. Akhirnya dengan terpaksa tawaran itu kami tolak. Padahal yang nawarin pak RT. Beliau berharap kami tinggal didekat situ supaya suamiku bisa sambil jadi pengurus masjid. Karena beliau lihat Abi lumayan rajin ke mushola, kalo lagi rajin, xixixixi..

Waktu berjalan. Sekian banyak surat lamaran diajukan abi kemana-mana. Interview kemana-mana ( ke Papua gak berani, hehehe). Nyatanya hingga tulisan ini dibuat kami masih cengengesan di sini bahkan sudah beranak 2. Sekitar dua tahun lalu aku dan abi akhirnya menyadari dan menerima kenyataan bahwa mungkin... Allah memang menakdirkan kami tuk menetap disini. Kalau bisa dilihat mungkin telapak kaki kami bertuliskan Muara Badak, xixixixi...

Nah, setelah legowo menerima kenyataan. Ternyata ke depannya lebih mudah terutama dalam merencanakan masa depan. Seperti rumah, sekolah anak, tempat bekerja dll. Ini sangat penting untuk di fix kan mengingat anak makin besar dan kita harus berpikir menguatkan pondasi rumah tangga untuk settle down. Termasuk tabungan pendidikan anak, investasi masa depan untuk anak-anak termasuk untuk pensiun kita. Belum lagi seperti tabungan haji. Itu baru yang penting-penting belum lagi ditambah barang konsumtif seperti mobil. Wowww... banyak juga ya PR kita, xixixixi... 

Dulu hal-hal  tersebut membuat galau tapi ternyata dengan memutuskan satu step tadi, dimana kita menetap. Membuat jalan ke depan terasa lebih ringan karena kita lebih terfokus dengan keputusan yang kita buat berdasarkan realita dan logika tadi. Bukan sekedar khayalan akan kesempurnaan. Lha, kalau mau nurut kata hati ya pengennya tinggal di Brunei Darussalam gitu.. Kan katanya tempatnya tenang, jauh dari hiruk pikuk, pendidikan bagus, gaji besar. Walaupun semua itu bisa kita koreksi lagi. Tapi itulah namanya khayalan. Sesuatu yang kita klaim sendiri berdasarkan informasi padahal kita belum tahu yang sebenarnya bagaimana.

Nah, pada tengah-tengah tahun 2013. Keinginan untuk punya rumah itu begitu kuat ku rasakan.. Aku berdoa bangeeeett untuk Allah tunjukkan jalan. Gak disangka, sehabis aku solat isya hp tanda sms masuk berbunyi. Waktu itu aku masih pakai mukena karena lagi serius berdoa minfa rumah, xixixixi... ternyata sms nya dari seorang teman yaitu Ufi yang menawarkan tanah kaplingnya. Bunyi smsnya kira-kira seperti ini "Kak anita aku punya tanah kapling di palacari mau dijual. disana sudah ada mata airnya dan lebar jalan masuk 6 m,bisa dicicil jg lho". Twing... aku bagai kesetrum. Sorenya kan aku baru dari panti ngobrol sama temanku yang juga ibu panti disana. Kami saling curhat coba ya kalau ada tanah kaplingan dijual dengan cara dicicil. Karena kalau dengan cash ya kita tidak sanggup. Terus temanku yang ibu panti itu cerita kalau Ufi mau jual tanahnya, terus ada lagi teman yang satunya mau jual tanah juga tapi mereka semua maunya cash.

Dengan datangnya sms Ufi yang menawarkan tanahnya boleh kredit aku langsung mikir jangan-jangan bu Panti alias mbak Ella ni cerita ke Ufi soal aku yang cari tanah kreditan. Gak papa sih, malah bersyukur, hehehe.. Tapi setelah besok-besoknya aku konfirmasi ternyata katanya tidak. Singkat cerita aku langsung ke rumah Ufi untuk memastikan soal penawarannya dan bagaimana kita sepakati pembayarannya. Alhamdulillah deal. Ufi dan suaminya taruh harga 20 jt untuk tanah kapling ukuran 15x20 m. Dan untuk pembayaran awal dia perlu 3 juta karena terdesak untuk beli laptop adiknya, xixixixi...'Oke sepakat

Sekarang pertanyaanya dari mana kami beroleh uang sebesar itu tanpa berhutang?
Tadinya Ufi dan suaminya minta 10 juta dulu baru sisanya masing-masing 5 juta. Tapi sama aku ditawar 4 juta dulu baru sisanya aku bayar pas kami berturut-turut dapat THR, pesangon dan aku dapat beasiswa. Sempat meleset juga karena akhir 2013 adalah waktu sibuk-sibuknya aku skripsi yang tentu saja butuh biaya lebih. Tapi untungnya Ufi dan suaminya adalah teman yang pengertian, xixixixi... Trus 4 juta buat uang muka dapat dari mana? dari pinjam sama tabungan pendidikan Sulthan. hehehehe... tenang ku niatkan pasti dibayar kok.

Tanah kaplingan tersebut sudah banyak dibangun rumah walau jaraknya masih jarang. Tapi didepan tanah kaplingku sudah ada rumahnya dan sudah ditinggali juga. Tanah kapling kami letaknya agak jauh di belakang. Aku suka melihat rumah-rumah yang baru dibangun disana. Kebanyakan setengah jadi tapi sudah ditinggali. Asalkan layak saja, tidak kepanasan dan kehujanan, ada wc, lantai semen kasar pun tidak masalah kan masih bisa dilapis karpet. Yang penting hati senang karena sudah tinggal di rumah sendiri. Nanti perlahan-lahan ditutupi kekurangannya. Lumayan lho kalau ngontrak berapa. Standar di daerahku sini yaitu Badak Makmur sekarang antara 600-700 rb per bulan. Lumayan kan kalau uang segitu kita belikan material.

Persoalan tanah alhamdulillah sudah selesai. Ternyata Allah kasih tanah tanpa pondasi dan dengan cara yang tidak disangka-sangka bahkan menurutku ajaib. Ahamdulillah nantinya bisa bebas berkreasi. Sekarang lanjut ke step berikutnya bagaimana cara membangun rumahnya. Semoga Allah tunjukkan lagi jalannya amiiiin