Pelajaran dari Blog Orang

Anita-Maulida



Akhir-akhir ini aku sedang suka membaca postingan di sebuah blog milik seseorang yang berpendidikan dan sudah berumur. Sebut saja namanya MX, kayak nama motorku, hehehe. Isi blognya banyak yang menarik dan unik serta beliau pandai membuat judul yang membuat kita penasaran untuk mengetahui lebih jauh isinya.

Kalau melihat postingan di blog orang tentang hal-hal unik maka biasanya perutku akan mendadak mules. Entah kenapa reaksinya bisa seperti itu. Tapi kusimpulkan reaksi tersebut adalah bentuk rasa antusiasku yang sedang tinggi (excited). Biasanya itu terjadi jika melihat atau membaca postingan yang dalam pikiranku aku juga pasti bisa bikin yang seperti itu. Apalagi jika dalam suatu postingan temanya bagus/unik tapi tata bahasanya amburadul atau banyak typo seperti blog yang sedang sering ku tongkrongin ini. Wah langsung geregetan. Berasa jadi guru bahasa indonesia yang lagi meriksa hasil tugas mengarang murid-muridnya, hahahaha...

Kalau sudah begitu biasanya aku menyesali diri aduuhh kenapa kok aku tidak berdaya melakukannya padahal aku bisa membuat yang seperti itu. Kemudian tiba-tiba aku ngebet punya kamera yang bagus buat foto-foto objek menarik. Tiba-tiba aku punya rencana menggadaikan BPKB motorku untuk membeli kamera canggih tersebut ( tapi batal karena baru ingat BPKB nya tinggal fotokopinya. Yang asli ditahan sama ortuku, wkwkwkw). Tiba-tiba aku ngedumel dalam hati pada si pemilik blog. Kok bisa sih menulis seperti itu? jangankan tulisannya, kubayangkan orang tersebut pasti gaya bicaranya juga mbulet-mbulet seperti tulisannya #persangkaansadis. 

Tapi anehnya kok aku betah nongkrong di blognya. Bahkan beberapa hari gak buka biasanya aku kangen berkunjung kesana. Cari-cari hal menarik dipostingan beliau. Sambil membaca sambil ngata-ngatain dalam hati, kok bahasanya begini sih.. kok muter-muter. Tapi ya terus saja membuka-buka postingan yang lain, hahahaha... #TimpukAkuDenganSebundelDolar# Mungkin ini yang bahasa gaulnya disebut benci tapi rindu, wkwkwkwkw...

Dari situ kemudian aku merenung sejenak dan kemudian menyadari dua hal (helehh)
Dari sisi eksternal:
Coba lihat blogger yang tata bahasanya amburadul itu. Soal keamburadulan bahasanya pada akhirnya terpulang kepada pembaca. Apakah pembacanya sensitif terhadap tata bahasa ataukah tetap enjoy menikmati tulisannya karena melihat manfaat didalamnya. Akan tetapi yang tidak bisa diremehkan adalah perjuangannya. Beliau dengan skill menulis yang lowbat seperti itu tetapi mampu membuat blog dengan konten hampir dua ribu dan sudah bisa menghasilkan dari blog tersebut dengan menjadi publisher. jrengg...

Dari sisi internal: aku membandingkan beliau dengan diriku yang dengan nyinyirnya menilai tata tulisan orang tetapi belum menghasilkan satu artikelpun untuk di publish dan memberikan manfaat untuk orang lain. Aku punya rencana yang menurutku keren dalam menulis ini. Tapi rencana ya tinggal rencana saja karena tidak ada langkah pertamaku untuk memulainya #zzzzzzzz...

Kesimpulan: Seharusnya aku meniru blogger tersebut untuk majuuuu teruuusss menulis dan posting, tabraaaakk saja. Lakukan saja sesuai apa yang bisa kita tulis saat ini. Nanti diperjalanan kita pasti akan dapat ilmu baru/petunjuk untuk memperbaiki kekurangan kita setahap demi setahap. Tak perlu menunggu semua sempurna karena tak akan bisa sempurna.

Toh kita tak akan tahu dimana kesalahan dan kekurangan artikel kita jika kita belum juga mulai menulis. Lha apa yang mau dinilai jika belum posting apapun. Karena yang menilai suatu artikel tersebut bagus atau tidak ya pembaca. Yang penting fokus untuk membuat tulisan yang bermanfaat sekaligus diniatkan belajar menulis. Now, I'll take my first step..