Bagaimana Kita Tahu Bahwa Islam Kita Sudah Benar?




cari-jodoh-kontak-jodoh-biro-jodoh

Tulisan ini terinspirasi sewaktu aku masih menimba ilmu di Ponpes Daarut Tauhid Bandung selepas aku lulus kuliah diploma di Banjarmasin. Temans yang pernah kuliah pasti sudah tahu kalau di kampus adalah tempatnya kita bisa berubah tidak hanya dari segi ilmu akademik tapi sikap dan pemikiran. Hal ini terutama dipengaruhi oleh kegiatan ekstrakurikuler di kampus. Kita sebagai mahasiswa unyu-unyu ibarat ikan oleh kakak-kakak yang punya program untuk menebar jalanya. Seru-seru  ya kegiatan di kampus. Tapi ada juga yang gak seru, yaitu kalau kulihat sekretariatnya kumuh, xixixix...


Selain pencinta alam dan Menwa salah dua yang paling hits dikampus adalah kelompok kajian keislamannya. Biasanya memang merupakan sayap dari suatu kelompok keislaman. Sebenarnya tidak ada masalah asal semuanya biasa-biasa saja saling rukun dan harmonis. Yang jadi masalah antar kelompok kajian ini saling perang dibelakang. Dari mulai rebutan tempat kajian, sekretariat, bahkan rebutan adik binaan baru. Kalau kuamati dari sudut pikiranku yang masih sempit ini semua berasal dari perasaan bahwa dirinya paling benar. Maklum lah ya namanya juga masih mahasiswa. Masih usia labil.

Kok aku berani bilang begitu? soalnya aku mengalami sendiri, heheheh... Sampai pikiranku ruwet sendiri. Ini sebenarnya apa sih. Kenapa kita harus kesini kesitu. Apakah itu salah dan kita benar ataukah sebaliknya? Apa sih inti dari semua ini? esensinya apa? Aku perlu dasar berpikir sebagai pijakan sudut pandang. Karena kalau tidak pasti pening dan hanya terbawa arus. Makanya akhirnya selepas lulus diploma aku kabur deh ke DT, heheheh... berharap pancerahan di sana.

Sebenarnya dari semester 3 aku kepingin kesana tapi waktu telepon ke pihak DT ternyata kita harus full dan bebas dari segala ikatan contohnya seperti sekolah. Jadi bisa benar-benar fokus. Apalagi pendidikannya selama 6 bulan.

Alhamdulillah aku benar-benar tercerahkan setelah mendengar penjelasan Ustadz Roni Abdul Fattah. Beliau ini luar biasa, waktu itu usia beliau baru 25 tahun tapi wawasan keilmuannya woww.. Bisa memberi jawaban bijak segala pertanyaan tanpa berpihak/menuduh. Bagiku sikap, attitude itu yang penting. Karena disitu terlihat sejauh mana keilmuan kita terserap dan menyatu dalam diri, lalu mengejawantah dalam sikap dan perbuatan. Itulah akhlak kita. Bukan semata hafalan ini itu tapi suka bicara jelek tentang kelompok islam yang lain yang notabene masih seaqidah hanya saja berbeda cara dakwah misalnya.

Waktu itu di ruang kelas ada yang bertanya tentang berbagai kelompok islam. Yang mana hal tersebut membuat kita sebagai pribadi  yang masih setengah dewasa bingung dan takut. Apakah  kita sekarang ini sudah benar. Dan bagaimana jika kita ingin bergabung dalam salah satu kelompok tersebut. Waktu itu ustadz Roni menjalaskan bahwa beliau sudah pernah ikut berbagai kelompok keislaman. Beliau memuji tokoh-tokoh pendiri kelompok tersebut sebagai orang-orang yang sholeh dan berilmu. Selama masih sama aqidah jalani saja sambil terus belajar. Beliau sendiri waktu itu memutuskan bergabung dalam salah satu partai politik tapi tidak menyalahkan yang lain karena beliau bilang itu hanya kendaraan kita saja dalam berjuang. Kemudian tak henti-hentinya berdoa kepada Allah mohon ditunjukkan mana yang benar dan seharusnya kita jalani.

Inti dari paparan beliau dapat ku simpulkan:

  • Jika kita tertarik dengan suatu kelompok tertentu semisal Muhammadiyah, NU, HTI, PKS dll  intinya yang masih seaqidah. Yaitu yang tuhannya Allah, Kitab sucinya hanya Al qur'an, nabinya Muhammad, menghormati para sahabat dan para ulama penerus maka  ikuti saja. ( meyakini rukun iman dan rukun islam).
  • Sambil dijalani sambil terus berdoa kepada Allah agar terus dibimbing dalam kebenaran islam. Bukan dibutakan oleh semangat kelompok sehingga muncul benih-benih merasa paling benar. Padahal para imam yang ilmunya tinggi dan mampu berijtihad saja tidak mencela imam yang lain apalagi kita yang hanya follower. Yang membaca kitab asli para imam mazhab pun tidak tamat-tamat dan hanya berbekal pengajian-pengajian umum


Jadi intinya bergabunglah ditempat mana yang kita bisa berbuat dan berkontribusi. Sambil terus menerus mohon ditunjukkan Allah tempat yang terbaik. Itulah cara paling masuk akal karena logikanya tak mungkin Allah menjerumuskan kita sedang kita memohon-mohon padanya untuk ditunjukkan jalan kebenaran. Jikalau ada sedikit menyimpang itu adalah cara Allah memberikan pelajaran pada kita. Semoga kita senantiasa orang-orang yang diberikan petunjuk. Amin..