Kisah Seorang Istri Yang Suka Kabur Part. 1



biro-jodoh-kontak-jodoh-cari-jodoh



Sebenarnya aku paling gak bisa bikin cerpen temans. Tapi pas mata kuliah literary di suruh dosen yaitu Ibu Srikandini untuk menulis cerpen. Cerpen ini sekaligus sebagai bahan final test. Waduuuhh... Entahlah kalau nulis ngalor ngidul aku suka. Tapi kalau menulis sesuatu yang terstruktur sistematis pasti langsung keok. Apalagi jika fiksi, give up deh. Soalnya aku juga paling gak bisa menulis dengan mengkhayal seperti cerpen ataupun novel. Makanya cerpenku dari SD mangkrak karena gak ada ide buat mengembangkan, huehue.. So, supaya tugas ini sukses akhirnya aku menulis cerita nyata saja temans. Kisah tentang tetanggaku yang kubuat kayak cerpen, hehehe.. Walau yang ini berangkat dari kisah nyata dan mungkin terkesan seperti buku harian, gapapa deh.. yang penting selesai buat ujian akhir, xixixixi... Oia, setelah ku hitung dengan word count ternyata cerpen ini berisi 1600 kata lebih maka ku bagi dua saja biar yanbg baca matanya gak berkantung, xixixii.. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran positif dari cerpen ini ya.  :D, enjoy...
 
---------------------------------

Kisah Perempuan Yang Suka Kabur Part. 1


Duduk di teras selepas zuhur sambil memandangi putraku bermain mobilan membuatku iseng berpikir, lama juga ya aku tinggal di Muara Badak ini. Hampir seumur pernikahan kami yang mendekati usia 4 tahun. Rasanya tak terasa. Tentu saja karena aku menikmatinya. Ini adalah tempat asing yang namanya saja aku baru tahu ketika akan pindah tapi puji syukur aku merasa betah tanpa homesick berlebihan pada kampung halamanku di Banjarbaru. 


Aku bertanya tanya juga kenapa aku bisa betah disini seperti ibu-ibu lain disini yang kebanyakannya juga perantauan mengikuti tuntutan pekerjaan suaminya. Cinta… yah…agak klise memang. Tapi apa lagi sih yang membuat seorang wanita betah meninggalkan keluarga tercinta yang telah mengasuhnya puluhan tahun kalau bukan suatu harapan bahwa dia akan bahagia bahkan lebih bahagia bersama orang yang diikutinya kelak. Walaupun pada kenyataanya banyak yang menelan jamu pahit rasa sambiloto brotowali karena pangeran yang diikuti bukannya pangeran yang terdidik dengan tata karma pada wanita malah gembong garong. Oh how pity…


Ups, aku kok malah ngelantur. Aku mulai menguap. Anakku Sulthan masih asyik dengan mobilan truknya.. yahh kadang seorang ibu itu dianggap tidak ada kerjaan. Lihatlah diriku yang duduk-duduk saja sambil menguap, bahkan sesekali sambil main Hp. Tapi orang yang tidak punya anak kecil atau sudah lupa rasanya punya anak kecil tidak akan tahu bahwa duduk-duduk saja sambil menguap adalah pekerjaan berat. Apanya yang berat? Tentu saja berat karena aku harus melakukan hal itu agar anakku tersalurkan energi kreatifnya. Jauh dilubuk hatiku sebenarnya aku ingin berlari ke dalam rumah. Kunci semua pintu dan tidur sampai sore, atau browsing seharian di depan komputer. Sama saja sebenarnya dengan keinginan terpendam semua orang baik itu ibu rumah tangga maupun pekerja. Laki-laki ataupun perempuan. Tapi yaah memang tak semua orang mengerti…


Sekilas aku tersenyum pada seorang wanita yang lewat. Dia adalah wanita jawa pekerja keras. Tinggal di daerah belakang komplek rumah ini, di areal kebun. Setiap hari lewat didepan rumahku untuk ke pasar berjualan tempe buatannya. Atau kadang-kadang juga hasil kebun. Lewat lagi pak haji yang tinggal dibelakang rumahku, beliau orang Bugis. 


Ngomong-ngomong bugis, dulu aku agak terperanjat mengetahui sebbagian besar warga  asli dan pendatang penghuni Muara Badak adalah orang Sulawesi. Entahlah itu bugis, mandar, tanah toraja (sering disebut singkat sebagai orang tator) maupun bagian Sulawesi lainnya. Penduduk asli kaltim yaitu orang kutai malah jarang kutemui. Entahlah mereka memang minoritas atau akunya saja yang kuper. Diantara padatnya orang Sulawesi terselip juga suku minoritas seperti jawa atau banjar.

Bahkan temanku disini yang orang bugis mengaku kalau neneknya juga orang muara  Badak. Wah…wah… berarti sudah dari nenek moyang mereka disini. Dulu sewaktu aku di Banjar aku juga bersahabat dengan orang bugis. Dia bilang padaku “Nit coba kamu perhatikan orang bugis makanannya lauknya gak cukup 1 macam seperti orang Jawa, 1 jenis ikan ada yang direbus, bakar, goreng and so on..”. Tadinya aq tak bisa bayangkan. Tapi ketika aku ngidam dan makan di tempat temanku orang Bugis disini, subhanallah… benarlah kata sahabatku di Banjar itu. Yaa.. aq bingung mengambil ikan olahan apa untuk ku taruh dipiringku. Ada ikan bakar, goreng, ikan asin pari bakar yang diisiram minyak kelapa murni. Sayurnya sayur santan encer plus sambal. Aku yang tadinya makan sedikit langsung muntah. Kali itu aku tambah berkali kali dan sukses tanpa mual dan muntah. Mantappp‼!.


Lain lagi cerita acilku (acil=bibi dalam bahasa banjar) di Batulicin kalsel. Dia juga bercerita kalau daerahnya sekarang tinggal juga didominasi bugis. Mengetahui aku tinggal di lingkungan bugis. Dia mendelik padaku dan berbisik “orang Bugis culas2 kan?”, bisiknya minta persetujuanku. Well…hmmm…dengan sedikit heran aku jawab “ah enggak kok cil”, bagaimana dia bisa membuat kesimpulan seperti itu karena orang Bugis dan Sulawesi yang kukenal umumnya baik2. Aku tak pernah diculasi atau apalah yang buruk-buruk Yah nasib bibiku saja mungkin pasnya kena orang culas. Lagipula aku sudah tahu bahwa orang culas, licik dan jahat bukanlah dari suku atau agama apa. Tapi memang dia memilih untuk menguatkan karakter buruknya tersbut. Karena aq yakin kita semua punya sifat baik dan buruk. Tinggal pilihan kita apa yang ingin kita perkuat.


Bahkan diam-diam aku kagum dengan para wanita tetanggaku yang orang Sulawesi. Sedikitnya ada tiga orang yang kuamati yaitu pemilik rumah kontrakanku, tetangga sebelah kanan dan kiriku. Mereka kalau sedang berbicara. Wawaww...begitu berkarakter dan menebarkan aura super woman. Ditambah lagi dengan raut muka yang penuh ekspresi yakin tak tergoyahkan. Salah satu kata yang sering mereka ucapkan dan membuatku terkagun-kagum adalah...

"Memang orang seperti itu, tapi kalau saya berprinsip.."
Kalau sudah bicara prinsip, begh.. Sudut mata dan mulutku yang tadinya turun karena pesimis langsung naik dan daguku mengangguk-angguk semangat.