Kisah Seorang Istri Yang Suka Kabur Part. 2


cari-jodoh-biro-jodoj-kontak-jodoh


Semilir angin mengolengkan badanku. Aq terperanjat karena hampir terpejam. Hoaahhh mata ini sudah sepat, rasanya seperti ada yang menaruh nasi kering dikelopak mataku. Sebenarnya aku berharap anakku segera mengantuk agar aku juga bisa tidur. Tapi kulihat dia masih asyik dengan mainannya, tak tega kuusik keasyikannya. Lagipula percuma jikalau dia belum mengantuk walaupun kupaksa masuk kerumah tetap saja dia tak akan tidur, malah menangis kencang. Tahu benar aku dengan sifat anakku itu.


Tiba-tiba terdengar suara anak kecil merengek. Kucari sumber suara ternyata Della, cucu pertama tetanggaku yang rumahnya berseberangan jalan dengan rumahku. 

“kenapa Della.. nggak bobok kah?” tegurku..
“baru saja bangun tidur ini..tidak nyenyak dia tidur”, jawab Bu Usman, tetanggaku itu dengan logat mandarnya.

Lumayan nih ada teman ngobrol untuk menghilangkan kantuk. Maka ku ajak anakku menyeberang ke rumah bu Usman.“dari kemarin saya lihat Della bu, mana ibunya”, iseng ku tanyakan Dewi, ibunya Della.
“kabur lagi dia ke Samarinda”, lemas bu Usman menjawab. Aku terperanjat sambil tak hentinya beristighfar. Tak lama mengalirlah cerita bu Usman tentang menantunya itu. Yang suka menjawab lah kalau dinasehati, suka kabur lah kalau bertengkar dengan suami, sambil mengeluh betapa repotnya ia yang sudah tua harus mengurus anak bayi berusia satu tahun dua bulan. Yang baru bisa berjalan dan sedang senang-senangnya bereksplorasi kesana kemari.

“bukan aku tidak sayang cucu atau tak mau mengurus, tapi aku tak sanggup lagi mengurus bayi. Capek aku, belum lagi pekerjaan rumah, belum lagi ayahnya Della ini aku juga  yang mengurus makanannya dan pakaiannya, uang bensin dan rokoknya. Sedang uang gajinya istrinya yang pegang ATM. Tak  sanggup aku pale..”

Speechless, aku tidak tahu harus menanggapi apa. Tapi tidak sopan juga kalau tidak menanggapi.

“iya sih bu...sebenarnya terlarang kita kabur dari rumah kalau ada masalah. Tapi setidaknya kalau mau kabur bawalah anak”, itulah akhirnya jawabanku

Kemudian kuteruskan, “bertengkar apa sih bu sampai istrinya kabur? Apa mungkin dia dipukul suaminya?”
“bukanlah...sudah ku tanya tidak ada itu pukul memukul, tapi dewi bilang dia sudah tak cocok lagi dengan anakku si Deni”
“tidak cocok ya...”
“ya tidak cocok tapi selalu saja kembali kembali lagi. Lebih baik kalau sudah tidak mau cerai saja sekalian, pusing aku...”.

Gak heran juga si ibu sampe keluar kata pamungkas cerai. Soalnya ini sudah yang ke 4 kali si dewi kabur setiap bertengkar dengan suaminya. Dan kalau kabur pasti anaknya di tinggal. Pernah dulu sangat keterlaluan. Sewaktu  Deni masih bekerja dia tinggalkan anaknya kabur ke Samarinda dalam keadaan tidur dalam ayunan, gimana juga kalau ternyata si Deni lambat datang kerja atau terjadi bencana kayak kebakaran gitu.nauzubillah...


Dalam hal istri kabur biasanya bagaimanapun aku tetap berpihak pada istri-istri. Karena kan kita tidak tahu apa yang membuat istri sampai kabur. Apakah KDRT atau bingung lagi kemana harus mengadu. Tapi masyarakat biasanya lebih menyorot istri yang kabur terkesan negatif. Apalagi kalau ternyata sang suami baik di masyarakat.


Tapi aku tak perpengaruh. Banyak temanku sesama perantauan di Muara Badak sini
curhat tentang kelakuan-kelakuan suami mereka yang terkesan semena-mena. Padahal  kuamati para suami itu adalah termasuk orang dihormati dalam masyarakat. Tapi itulah..mana kita tahu rumah tangga orang.

Tak lama aku pamit, ikut pusing kepalaku mendengarkan cerita tentang si Dewi. Hmmm... seharusnya aku objektif. Tidak serta merta berpihak pada bu Usman karena cerita yang ku dengar semua dari sudut pandang bu Usman. Aku tidak tahu apa kata si Dewi. Tapi tetap bagiku si dewi adalah suck mother karena tega-teganya meninggalkan anak karena ribut dengan suami. Bisa-bisanya dia tega.

Malamnya aku menceritakan hal yang kualami tadi siang kepadda suamiku. Aku ingin kami mengambil pelajaran sebagai pasangan muda yang hidup diperantauan dan tak punya siapa-siapa agar bisa mengelola emosi dengan baik dan membiasakan dialog dengan kepala dingin jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang kita temui pada diri kita masing-masing.


Dua hari aku tak melihat Della karena dua hari ini aku asyik main ke tetangga yang lebih jauh rumahnya. Ya refreshing sekalian mengajak anakku, Sulthan , agar lebih banyak bergaul dengan anak seusianya. Dan pagi ini, jam 7 saat menjemur pakaian kulihat Dewi sudah mendorong anaknya Della dalam kereta untuk berjalan-jalan”.
“ jalan-jalan della...”, sapaku, pura-pura tak tahu apa yang terjadi
“iya tante...”, sahut Dewi.
Hmmm... berarti ini sudah ke-4 kalinya dia kabur dan ke-4 kalinya juga dia kembali. Sorenya juga kulihat Della dan Dewi berjalan-jalan dengan kereta kali ini bersama bu Usman.

Bu Usman memang pemaaf. Aku tersenyum padanya ketika kami berrpapasan. Kulihat beliau berusaha untuk biasa-biasa saja bersikap pada menantunya tersebut. Aku tak tahu apa permasalahan Dewi dan Deni sehingga Dewi suka kabur. Akupun tak berharap mereka cerai. Aku hanya berharap mereka bisa saling merubah sikap menuju kedewasaan. Ketika bukan ego semata yang bermain. Tapi tabayyun...bicarakan masalahnya untuk sama-sama saling mencari solusinya. Walau sebenernya aku yakin mereka tahu solusinya. Hanya ego saja yang menutupinya. Ketika yang satu bicara maunya dengan nada marah, yang satunya  tidak ingin dimarahi dan tidak mempedulikan. Haaaahhhh... perlu usaha memang menemukan apa yang cocok untuk rumah tangga kita. Dan aku bersyukur telah menemukannya berrsama suamiku.


Ini hanya sekedar sekeping kecil rekaman hidupku di Muara Badak. Masih banyak lagi yang lainnya yang akan terjalin dalam satu roll film kehidupan. Aku hanya berharap tiap keping yang ku dapat makin mendewasakanku menuju kearifan hidup.