Film Air Mata Surga, Mati Yang Sempurna

nilai-nilai yang terkandung dalam film air mata surga

Ini film baru aku tau keberadaan film Air Mata Surga ini waktu nonton youtube. Kaget di youtube ada yang upload  full version. Karena di youtube kualitas gambar film nya jelek jadi aku cari di Hooq dan ternyata belum ada dikatalog. Yasudahlah aku nonton yang ada. Walaupun kualitas gambarnya jelek tapi suara dan musik latarnya masih terdengar jelas dan bagus.

Film ini diangkat dari novel karya Aguk Irawan yang berjudul Air Mata Tuhan, novelnya sendiri terinspirasi dari kisah nyata. Aku baca sekilas potongan kisah novelnya diinternet rasanya beda dengan filmnya. Yang di novel berasa lebih kompleks gitu. Tapi memang lumrah kan dimana-mana versi film pasti beda dengan novel karena film terbatas waktu dan ruwet kalau semua deskripsi perasaan itu diterjemahkan kedalam film. Ntar bukannya seru malah penonton bingung nontonnya, hihi..

Tapi waktu kemarin aku nonton filmnya aja (belum baca potongan novelnya) bagus kok dan sudah tersampaikan pesannya dengan baik. Jadi film ini berkisah tentang seorang mahasiswi S2 bernama Fisha (Dewi Sandra) yang bertemu dengan Fikri (Richard Kevin), dosen pembimbing muda yang ngguantheng, guagah, kuaya raya, puinther, pokoknya semfurnah.. mereka akhirnya saling jatuh cinta dan semua lancar sampai pernikahan walau ada drama sedikit dengan ibunya Fikri yang kurang setuju.

Ternyata pernikahan tidak berjalan lancar, fisha mengalami keguguran 2 kali dan sang ibu mertua yang dari awal memang sudah kurang suka kepada Fisha mendesak Fikri untuk menceraikan istrinya dan menikahi Riri, perempuan yang sebelumnya akan dijodohkan dengan Fikri. Masalah meruncing dengan konflik batin antara Fisha yang ternyata mengidap kanker rahim stadium 4 harus memilih antara cerai atau dimadu, disisi lain Fikri yang sangaaaatt mencintai Fisha ikhlas dengan keadaan Fisha walau tanpa anak karena baginya istrinya saja sudah cukup, disisi lain lagi keluarga besar Fikri terus mendesak keturunan. Disisi lainnya lagi ada Hamzah (Morgan Oey), teman masa kecil Fisha yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Fisha ternyata jatuh cinta  kepadanya dan masih ngarep.

Pelajarannya yang kupetik disini adalah ujian super berat yang diberikan Allah kepada Fisha. Ditengah sakit kanker Rahim stadium 4 nya masih juga diberi pilihan hidup yang berat. Ditengah kelemahan fisiknya Allah memberi hati yang sekuat gunung. Dan kupikir Fisha pemenang dalam hidupnya karena dia tepat dalam membuat pilihan, tidak serta merta egois karena dia sakit.

Pada akhirnya di film ini Fisha mencarikan jodoh terbaik untuk suaminya yaitu sahabatnya sendiri, walau sahabat dan suaminya sama-sama tidak mau. Dan tak lama kemudian Fisha meninggal di tempatnya pertama bertemu suaminya dengan mengucapkan kalimat tauhid dihadapan suaminya, dan menurutku inilah yang layak disebut dengan mati yang sempurna.

Bagi sebagian orang mungkin cerita ini menyedihkan, tragis dan tidak adil. Bagaimana mungkin seorang wanita yang cantik dan setia kemudian harus meninggal karena kanker setelah sebelumnya menikahkan suaminya dengan sahabatnya sendiri? Justru menurutku inilah hidup yang seharusnya. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tidak sekedar apa yang diinginkan. Yaitu menempatkan cinta kepada Allah diatas segala-galanya dengan melakukan sesuatu dengn "benar". Tragis dong? gak lah... yang merasa tragis tuh kita yang melihat dengan kacamata ego. 

Justru itu yang membawa Fisha sebagai pemenang, mendapat medali dari Allah. Wanita begini yang meninggalnya langsung digajar surga. Karena sudah keguguran 2 kali, dan sakit kanker berat yang pastinya itu menjadi penggugur dosanya. Dan ditutup dengan pengorbanan ikhlas atas nama Allah karena dia mencintai suaminya. Mencintai dengan memberinya kebahagiaan bukan dengan mengajaknya menderita bersama-sama. Inilah arti hidup yang sebenarnya.