Film Ngenest, Pahitnya Bullying Anak - Anak Chinese

Nilai Moral Film Ngenest
Barusan kelar nonton film Ngenest di aplikasi hooq. Seneng banget soalnya kemaren-kemaren belum tersedia. Malah komplit film inceranku semua new available dari mulai koala kumal, cek toko sebelah dan nongkrong, hihiyyy… simpen-simpen kuota neh. Tadinya ku mau nonton air mata surga secara illegal, wkwkwkwk malu-malu norak. Tapi inget film-film yang kutonton dan review di blog ini kayaknya isinya kok Morgan Oey semua ya… *tersentak kemudian merem*, ntar pembaca bingung (bingung kenapa yah? wkwkwk). Baiklah sebagai penyegaran aku nonton hooq ajalah, tadinya mau nonton cek toko sebelah tapi kok film Ngenest sudah ada dihalaman pertama tinggal pencet play doang. Yasudahlah Ngenest dulu kan aktor utamanya juga sama-sama Ernest. Pas udah jalan 1/4 film kaget ternyata ada Morgan nongol, wkwkwkwkwkwk… jodoh emang gak kemana ya dek.. *kedip-kedip najis*.

Sumpah pilem ini bagus.. baguusss banget. Kualitas filmnya oke..alur ceritanya juga. Kan ada film-film tertentu yang bagus tapi aku merasa ada missing link gitu, nah difilm ini tuh gak ada. Semua berjalan mulus lancar dan enak. Mulai dari Ernest lahir, SD, SMP, SMA sampai kuliah.. semuanya sambung menyambung dengan harmoni. Pesan moralnya dapet banget lah.. emang sutradara jempolan koh Ernest, 4 thumbs up!!!

Tapi dari segi kata-kata lumayan ada jorok-joroknya  tapi gak vulgar sih.. kenapa ya.. hahaha… di aku sih gak masalah itu ya cuma dikit dan terkesan natural. Gak berkesan juga, hahaha.. yang berkesan tetap alur ceritanya.

Jadi ini film tentang perjalanan nyata hidup sang aktor yaitu Ernest Prakasa sebagai seorang anak keturunan China yang lahir dan besar di lingkungan betawi. Karena warga keturunan minoritas dia mengalami pembulian dari kecil. Disini serunya bagaimana Ernest menghadapi pembulian itu. Malangnya efek trauma dari pembulian itu terbawa Ernest sampai dewasa, menikah dan punya anak. Konflik sedihnya pas Ernest sudah menikah dia menunda-nunda punya anak karena takut anaknya yang lahir akan bermata sipit seperti dia dan mengalami pembulian serupa dengan dia waktu kecil.

Dari film ini kita dapat gambaran ya bagaimana anak-anak keturunan tionghoa mengalami pembulian untuk hal yang bukan tanggung jawab mereka untuk menanggung. Anak-anak siapapun keturunan apapun dimuka bumi ini gak ada yang yang bisa memilih dari keturunan mana dia dilahirkan. Semua yang menjadikan dirinya ada adalah takdir Allah dan kemudian orang tuanya yang mengarahkan. Dia kemudian bisa memutuskan sendiri hidupnya setelah cukup dewasa untuk berpikir dan bertanggung jawab.

Ada beberapa filosofi yang aku tangkap difilm ini yaitu bahwa katanya bangsa China akan menguasai dunia jadi bahasa mandarin itu wajib kita pelajari, layaknya bahasa inggris. Suka gak suka memang pernyataan ini ada benarnya, apa kabar bahasa mandarinku yang macet, 😢. Atau nasihat optimisnya si Patrick (Morgan Oey) kepada Ernest bahwa tidak semua harapan kita akan terwujud dan tidak semua ketakutan kita akan terjadi. Juga teorinya Patrick tentang filosofi tokay (apa tokai?) alias tinja. Katanya hidup itu harus seperti filosofi tokai, diawali dengan keikhlasan (bom, duut, bom, duut 😅), lalu mengalir, mengambang, menikmati arus, go with the flow saja, wkwkwkwkwk.. jorok mak, tapi bener juga, for some cases of course 👹😆

Mungkin memang separah itu ya pembulian di sekitar Ernest pada waktu itu. Kalau kubandingkan dengan tempatku di Kalimantan selatan gak ada sih. Ada teman sekelasku orang tionghoa waktu SMP kelas 1 gak ada yang bully. Dia sendiri agamanya Buddha dan wajahnya china banget tapi all is well, itu tahun 1997. Tapi mungkin karena sekolahku waktu itu SMP terdepan yah dikotaku yaitu SLTPN 1 Banjarbaru jadi murid-murid yang masuk kesitu adalah murid-murid berkelas nan elegan yang gak level sama pembulian berjenis SARA, wkwkwkwk… sombong mak..

Tapi sebenarnya pembulian bertema ras itu bukan satu-satunya yang parah. Pembulian itu banyak terjadi disekitar kita bahkan dilakukan oleh keluarga sendiri. Contohnya adikku sendiri yang suka ngadu kalau dia dibuli dirumah sama tenteku, wkwkwkwk..  tapi pada kenyataannya pembulian itu memang kebanyakan terjadi disekolah diantara teman-teman sepantaran dan sepermainan. Dan dengan mental bullying semua hal bisa dijadikan bahan. Mulai dari fisik seseorang, gaya bicara, bajunya yang sudah kumal ataupun bau badan yang menyengat.

Tapi zaman sekarang gak semua berbau China itu pembulian loh bahkan malah jadi sejenis pujian. Misal ada orang tua yang berkulit gelap terus anaknya yang lahir putih bersih. Orang-orang biasanya pada muji " waaaah..lucunya.. putih banget kayak china..", itu pujian kan? karena sekarang lagi musim Korea kadang-kadang kata China diganti Korea. Kayak anakku si Syamil yang putih, sipit dan rambut cokelat muda suka dikatain anak bule, aku sih seneng-seneng aja, hohoho... Atau ada anak yang matanya sipit pasti orang-orang pada gemes dan bilang kalau itu mirip china. Kalau bokap nyokapnya bermata belok bahkan gelap orang-orang lalu sibuk mencari dari pihak mana si anak mendapatkan gen beda tersebut (in good meaning). Bagi yang iseng akan melemparkan isu kalau itu adalah anak tetangga, wkwkwkwk.. ups.. gak sopan..

Zaman aku dahulu pembulian memang gak parah hanya olok-olok biasa saja. Teman yang bau badannya bersatu dengan bau parfumnya pun hanya kita gosipkan dibelakang gak dibully, hihi.. tapi ada sih yang diolok agak berlebihan waktu kelas 3 SMP, ada teman berkelamin laki-laki tapi kemayu dan parahnya dia terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada laki-laki juga, wkwkwk… kayaknya waktu itu dia benar-benar gak sadar bahwa dia itu laki-laki dan pakai celana (emang ada ya laki-laki pake rok? dulu gak ada sekarng ada😅)

Waktu itu dia duduk sebangku sama aku, terpaksa aku mau karena diatur ibu guru. Aku bendahara kelas dan dia asistenku. Dia seneng banget kalau kuberi tugas nagih duit kas terutama kepada para cowok-cowok ganteng dikelas.  Sebenarnya aku senang berteman dengannya karena asyik ya diajak ngobrol karena berasa kayak ngobrol dengan sesama cewek auma bedanya dia pakai celana dikelas.  Dia juga sama kayak aku suka novel. Ngerinya kelas 3 SMP dia sukanya novel-novel dewasa karya Mira W, yang paling kuingat judulnya Cinta Diawal Tiga Puluh.

Dia mau pinjamkan tapi aku males ya secara kelas 3 SMP aku sukanya novel-novel petualangan karya Enid Blyton atau novel misteri criminal karya Agatha Christie, xixixixi… hmmm mungkin temanku inilah jenis orang yang mengalami pembulian seperti Ernest. Jangan-jangan dia juga membawa trauma itu hingga dewasa, sedih deh..

Apapun alasannya pembulian itu gak baik walau tidak bisa kita hindari. Kita gak tahu bahwa perbuatan dan kata-kata kita bisa menghancurkan kehidupan seseorang dimasa depannya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah jaga mulut gak usah komen kalau gak bisa keluarin komen yang baik. Kalau alasannya  sekedar jujur sih gak perlu ya karena gak semua kata-kata jujur itu harus disampaikan kecuali di pengadilan. Gak semua situasi memerlukan kejujuran. Selain itu ingatkan juga anak-anak kita untuk tidak membully orang dan lebih utama lagi ajarkan mereka bagaimana cara menghadapi pembulian, kalau perlu dibantu karena takut efek kedepannya anak-anak kita menjadi pribadi yang minder.